Perceraian Tanpa Buku Nikah

Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Pasal 5 ayat (1) UU Perkawinan):

  1. adanya persetujuan dari istri/istri-istri;
  2. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka;
  3. adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.

Perlu diketahui bahwa persetujuan dari istri ini tidak diperlukan jika si istri tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari istrinya selama sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim Pengadilan (Pasal 5 ayat (2) UU Perkawinan).

Hal serupa juga berlaku bagi pasangan suami istri yang beragama Islam, sebagaimana diatur dalam Pasal 56 – Pasal 58 Kompilasi Hukum Islam.

Oleh karena itu, jika Anda ingin menikah lagi tanpa menceraikan istri sebelumnya, Anda harus mendapat persetujuan dari istri Anda.

2.   Mengenai apakah si istri dapat mengurus surat cerai tanpa ada buku nikah dan persetujuan si suami, tidak ada yang mensyaratkan bahwa suatu perceraian membutuhkan persetujuan si suami.

Perceraian dapat dilakukan jika terdapat cukup alasan bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri (Pasal 39 ayat (2) UU Perkawinan). Berdasarkan Pasal 20 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“PP 9/1975”), gugatan perceraian diajukan oleh suami atau isteri atau kuasanya kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat.

Terkait tata cara perceraian, Anda dapat membaca dalam artikel yang berjudul Bagaimana Mengurus Perceraian Tanpa Advokat? dan Perceraian Agama Katolik.

Mengenai buku nikah, jika Anda beragama non-Islam, maka yang dimiliki oleh pasangan suami istri adalah akta perkawinan. Perceraian untuk yang beragama non-Islam dilakukan di Pengadilan Negeri. Sebagaimana kami akses dari laman Pengadilan Negeri Bekasi, untuk proses perceraian disyaratkan untuk melampirkan akta perkawinan.

Sedangkan untuk yang beragama Islam yang akan melakukan perceraian di Pengadilan Agama, jika yang akan mengajukan perceraian adalah istri Anda, maka dinamakan cerai gugat (baca Cerai Karena Gugatan dan Cerai Karena Talak). Berdasarkan informasi dari laman Pengadilan Agama Bali, asli buku nikah/duplikat kutipan akta nikah beserta 1 lembar foto copy yang dimateraikan Rp.6.000,- di Kantor Pos merupakan salah satu persyaratan gugatan cerai oleh istri.

Oleh karena itu, pada dasarnya buku nikah atau akta perkawinan adalah persyaratan administrasi. Sedangkan yang menjadi persyaratan utama dari perceraian itu sendiri adalah terdapat cukup alasan bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri.

Related posts

One Thought to “Perceraian Tanpa Buku Nikah”

  1. Maskun aroyan

    Saya ingin melakukan gugatan cerai tapi buku nikah saya hilang dan istri saya sudah tiada kabar selama 6 tahun

Leave a Comment

WhatsApp chat